In preparation

Posted: January 3, 2011 in Uncategorized

pasca pertandingan leg 2 final piala AFF 2010Tahun 2010 memang diakhiri ‘hanya’ dengan gelar runner up dari turnamen piala AFF. Tapi di tahun 2011 even sepakbola Indonesia akan dimeriahkan lagi dengan ISL putaran ke 2 dan juga dimulainya liga tandingan (breakway league) IPL. Apakah kedua kompetisi tersebut mampu membuahkan output positif bagi timnas Indonesia di event internasional mendatang (Sea Games 2011 dll) terlepas dari polemik status pemain timnas yang dikhususkan dari peserta liga di bawah naungan PSSI? Mari kita tunggu. šŸ˜‰

 

*foto dari Ā© 2010 Antarafoto.com

Petualangan Arema di kancah internasional musim ini dimulai dengan melawan Cerezo Osaka di babak penyisihan grup G Liga Champions Asia. Kedua tim sama-sama menganut formasi favorit 4-2-3-1 walaupun agak berbeda dalam penerapan. Cerezo memulai pertandingan dengan 4 pemain yang berbeda dari formasi inti tahun lalu, sedangkan di pihak Arema perubahan ada di titik penjaga gawang yaitu Ahmad Kurniawan yang menggantikan Kurnia Meiga dan Ahmad Amirudin yang menggantikan Dendi Santoso, keduanya absen karena kepentingan membela timnas.

Formasi Cerezo
Seperti yang telah disebutkan di awal, kedua tim sama2 memakai formasi 4-2-3-1, namun permainan Cerezo difokuskan pada pressing intense di daerah lawan. Bahkan saking tingginya line defense pertahanan Cerezo, formasi mereka hampir seperti 2-4-3-1 ketika menguasai bola (kedua full back seringkali sejajar dengan para gelandang bertahan). Hal ini mungkin disebabkan karena kedua full back Cerezo yang posisi aslinya adalah sayap/wingback sehingga terbiasa ada di posisi yang lebih maju daripada posisi full back konvensional. Posisi kedua fullback tersebut juga memungkinkan Cerezo melakukan pressing intense di daerah lawan dan membatasi ruang gerak pemain Arema melakukan penyerangan. Trequtretista Cerezo (Takashi Inui, no. 7) diberi peran bebas untuk bermain melebar ke kiri atau ke kanan dan melakukan swap dengan pemain sayap yang melakukan cut-in ke pusat pertahanan Arema.

Formasi Arema
Arema sebagai tim away dan masih buta kekuatan lawan menerapkan 4-2-3-1 yang lebih sering berubah menjadi 4-4-1-1 (mirip pola permainan Jerman di WC 2010) karena pressing dari Cerezo. Kembalinya Waluyo sebagai pendamping Purwaka Yudhi tidak terlalu mengejutkan mengingat penampilan impresifnya di dua partai terakhir melawan Persiwa dan Persipura. Bustomi tetap berperan sebagai jangkar tim dan bertugas melibatkan seluruh tim dalam permainan dengan passingnya sementara Esteban bertugas untuk mengalirkan bola ke para pemain depan. Satu hal mengejutkan dari pertandingan kemarin adalah bagusnya adaptasi Ahmad Amirudin di posisi gelandang kiri karena disiplinnya dalam memback-up Benny Wahyudi dalam mengawal sisi kiri Arema. Noh Alam Shah mengemban banyak tugas dalam pertandingan ini, karena selain sebagai kapten dan juga target man tim, dia juga bermain sebagai defensive forward dan aktif turun ke bawah untuk menjemput bola.

Babak 1
Baik formasi awal maupun formasi cadangan kedua tim bersifat menetralkan formasi lawan karena sama-sama menempatkan 5 pemain tengah sehingga menciptakan kondisi setiap pemain seperti mendapat pengawalan langsung dari pemain lawan karena kesamaan posisi (lihat diagram). Hal inilah yang membuat 10 menit pertama pertandingan berjalan lambat karena kurangnya celah untuk passing di lini tengah. Di menit 13 Cerezo mencetak gol melalui skema fast break yang diawali dari pressing terhadap Esteban, lalu bola disampaikan ke Inui yang mendapat celah kosong di sisi kanan pertahanan Arema dan berhasil mengirimkan crossing terukur ke Rodrigo Pimpao.

Arema sendiri bukannya tanpa peluang, di menit 29 Amirudin berhasil mendapatkan celah yang ditinggalkan oleh fullback Cerezo untuk melakukan overlap, namun sayang tembakannya masih melebar. Hal yang sama juga didapatkan M. Ridhuan ketika fullback Cerezo meninggalkan celah, tapi sayang crossingnya gagal menemukan sasaran.

Babak 2
45 menit babak 2 dimulai dengan Arema mengambil inisiatif serangan, dan berbuah manis ketika tembakan Roman Chmelo berhasil ditepis kiper lawan yang menghasilkan tendangan sudut. Kemelut pasca tendangan sudut inilah yang akhirnya berbuah manis bagi Arema karena umpan terukur dari sayap kiri mengenai tangan salah satu pemain Cerezo dan wasit pun memutuskan tendangan penalti bagi Arema. Kedudukan 1-1, gol penalti dicetak oleh Noh Alam Shah.

Cerezo pun merespon dengan kembali meningkatkan pressing dan intensitas serangan, dalam 20 menit pasca kebobolan Cerezo menghasilkan 5 tembakan ke gawang (2 tembakan on target, 2 tembakan melebar dan 1 tembakan mengenai tiang gawang). Arema pun merespon dengan swap posisi antara NAS dengan Roman (Roman sebagai striker utama sedangkan NAS bertugas untuk membantu pertahanan serta turun ke garis tengah untuk memberi opsi passing). Taktik ini mulai sering dipakai Miroslav Janu sejak awal tahun 2011, mungkin karena pertimbangan Roman yang lebih efektif ketika berada di dekat kotak penalti, ball keeping yang lebih baik serta mampu mencari posisi yang baik untuk dilanggar sehingga mendapatkan tendangan bebas; sedangkan NAS memiliki work rate serta determinasi tinggi sehingga kelebihan tersebut lebih efektif jika digunakan di antara lini tengah dan lini depan (semacam ball winner di posisi depan/defensive forward).

Gol Cerezo akhirnya tercipta di menit 75 melalui skema serangan yang tertata rapi dengan Kim Bo Kyung sebagai protagonis utama Cerezo. Serangan yang diawali oleh Kim sebelumnya telah menghasilkan 2 peluang gol di menit 69 dan 71 (satu tembakannya membentur tiang, satu lainnya adalah ketika dia memberi final pass bagi Kurata yang tembakannya berhasil diblok oleh AK). Setelah membuat AK harus berjibaku untuk melakukan penyelamatan sehingga harus mendapat perawatan medis, Kim membuat pergerakan yang membuat kebingungan di lini belakang Arema. Pergerakannya yang cenderung masuk ke dalam kotak penalti sementara Inui yang bergerak melebar dari posisi awalnya menimbulkan kerancuan siapa yang harus dikawal oleh duo Ridhuan dan Zulkifly. Kebingungan sesaat inilah yang membuat celah bagi Maruhashi untuk melakukan overlap, dan Bustomi yang terlambat sepersekian detik untuk menutup pergerakannya terpaksa melakukan pelanggaran yang berbuah tendangan bebas. Tendangan bebas diambil oleh Chugo dan diselesaikan dengan baik oleh Rodrigo Pimpao.

Miroslav Janu akhirnya merespon dengan memasukkan Sunarto untuk mengejar ketinggalan gol, dan posisi NAS kembali berubah menjadi agak melebar ke kiri untuk memberi ruang bagi Sunarto sebagai striker utama. Celah di sisi kanan pertahanan Cerezo akhirnya muncul di menit ke 84 dan Esteban yang berhasil lolos dari penjagaan berhasil memberi umpan terobosan yang terukur untuk NAS, namun sayang sentuhan terakhir NAS yang sudah berhasil menaklukkan kiper Kim Jin-Hyeon digagalkan oleh kapten Cerezo, Teruyuki Moniwa. Pertandingan pun berakhir 2-1 untuk kemenangan Cerezo.

Kesimpulan
Hingga akhir pertandingan, jumlah tembakan ke gawang bagi Cerezo dan Arema adalah 17 dibanding 5, sehingga skor akhir 2-1 bisa dianggap kesuksesan tersendiri bagi Arema. Kredit utama bagi Arema layak diberikan kepada back four serta kiper yang tampil sangat impresif dan disiplin bermain sebagai satu unit pertahanan, serta sangat tenang dalam melakukan passing game ketika berhasil merebut kembali penguasaan bola. Kepergian Njanka mungkin benar-benar berkah bagi Arema sehingga mampu untuk bermain lebih kolektif.

Bagi Arema, pemain tengah yang kreatif di bangku cadangan bisa jadi merupakan solusi untuk mengejar ketinggalan. Pada posisi tertinggal 2-1 dan Esteban sudah mencapai batasnya, pilihan Janu untuk pergantian pemain sangat terbatas sehingga pilihan jatuh pada Hendra Ridwan yang bertipe ball winner. Hal ini seperti memberi mind set pada tim untuk tidak kebobolan lebih banyak lagi daripada untuk mengejar ketertinggalan. Memang ada Ronny Firmansyah di bangku cadangan, namun sayang penampilannya sudah tidak sebaik 4 atau 5 tahun yang lalu.

Untuk partai LCA berikutnya, baik partai kandang dan tandang mungkin Arema sudah terlalu khawatir atau kaget dengan pressing tinggi level Asia.

Partai big match pertama ISL di tahun 2011 mempertemukan Persija Jakarta dengan Arema Indonesia. Kedua tim memiliki poin sama di klasemen, Persija bermain dengan 4-4-2Ā  sedangkan Arema 4-2-3-1. Persija memilih untuk mengistirahatkan Nasuha dan BP dan memainkan Leo Saputra serta Agu Casmir, sedangkan Arema membuat perubahan denganĀ Roman Chmelo digeser ke sayap kiri dan Esteban Guillen di posisi gelandang serang. Pertandingan berjalan dengan kedua tim bermain sangat hati2, sepuluh menit pertama kedua tim sama2 memperoleh peluang gol melalui tendangan pojok (Precious dan Njanka, keduanya hampir mencetak gol melalui heading).

4-2-1-3 vs 4-3-2-1
Di kubu Arema, Esteban terlihat kurang nyaman di posisi gelandang serang dan baru mulai terlibat dalam permainan di menit 19 ketika dia turun ke garis tengah serta mengubah formasi Arema menjadi 4-2-1-3. Dengan mundurnya Esteban di lini tengah maka Arema mampu fokus untuk menyerang sisi kiri Persija karena kecenderungan Greg Nwokolo yang bermain jauh di depan dan meninggalkan Leo Saputra sendirian di sisi kiri pertahanan Persija. Perubahan ini hampir membuahkan hasil, di menit 25 terjadi pelanggaran di sisi kiri pertahanan Persija yang menghasilkan tendangan bebas bagi Arema dan Noh Alam Syah hampir mencetak gol melalui heading jika saja bola tidak membentur tiang gawang. Melihat situasi ini Rahmad Darmawan segera mengubah formasi Persija menjadi 4-3-2-1 dengan Greg digeser ke kanan dan Aliyudin mengisi sayap kiri, sementara Toni Sucipto ditugaskan untuk membantu Leo Saputra di sisi kiri Persija. Strategi ini membuahkan hasil, 5 menit terakhir babak pertama Persija memfokuskan serangan pada sisi kiri tengah pertahanan Arema (posisi Njanka). Peluang pertama melalui tembakan Syamsul Chaerudin yang membentur tiang gawang, lalu tembakan Agu casmir yang berhasil di tepis Kurnia Meiga, tembakan dari luar kotak penalti Ismed Sofyan dan akhirnya ketika Greg Nwokolo lolos dari jebakan offside dan sukses mencetak gol.

Fresh pace
Di babak ke dua Arema melakukan pergantian pemain, Dendi Santoso masuk menggantikan Juan Revi sehingga Arema kembali ke formasi semula 4-2-3-1 dengan Roman kembali ke posisi second striker dan Dendi bermain di sayap kiri. Dalam tempo 5 menit, 4 serangan Arema dari sayap kiri bisa mencapai final third tapi masih belum bisa menjadi gol. Rahmad Darmawan pun segera mengganti M. Ilham dengan M. Nasuha untuk membantu menutup pergerakan Dendi. Terfokusnya permainan di sisi kanan Persija membuat Roman melihat celah di sisi kiri Persija dan satu tembakannya hampir saja berbuah gol bagi Arema.

Kurang konsentrasi
Terlalu asyik menyerang, Arema malah kecolongan gol karena kurangnya konsentrasi barisan pertahanan. Agu Casmir yang bebas dari penjagaan melihat ruang kosong di antara Njanka dan Benny Wahyudi dan throw in segera ditujukan di posisi itu, dan gol pun tercipta. Arema segera merespon balik dan Njanka lebih terlibat dalam penyerangan. Gol Arema berawal dari pergerakan Njanka yang dilanggar dan membuahkan tendangan bebas. Tendangan bebas Esteban mampu di heading dengan baik oleh Roman Chmelo yang lepas dari pengawalan, lagi-lagi di sisi kiri pertahanan Persija. Sisa dua puluh menit pertandingan kedua tim melakukan pergantian pemain, di sisi Arema Leo Tupamahu dan T.A. Musafry masuk menggantikan Purwaka Yudhi dan M. Ridhuan, sedangkan di sisi Persija BP masuk menggantikan Aliyudin dan pertandingan menjadi 4-4-2 melawan 4-2-4/3-3-4 (kecenderungan Njanka yang maju hingga garis tengah membuat Arema bermain dgn 3 bek hingga akhir pertandingan). Persija tetap mampu mengendalikan pertandingan bahkan hampir menambah dua gol melalui BP dan Greg Nwokolo, namun sampai akhir pertandingan skor tetap 2-1.

Kesimpulan
Pertandingan kedua tim cukup imbang, namun Rahmad Darmawan lebih tanggap pada kelemahan timnya dan mampu memfokuskan timnya untuk mengincar titik kelemahan Arema.

Permainan Arema terlambat panas, mungkin faktor Bustomi yang masih kelelahan pasca piala AFF. Miroslav Janu mungkin perlu mengevaluasi peran Njanka yang terlalu gemar maju membantu serangan serta melakukan hal-hal tidak perlu di daerah pertahanan sendiri karena posisinya sebagai pemain paling senior juga sebagai kapten tim. Dua gol Persija dicetak dari posisi Njanka.